Cara Install Docker di STB Armbian

STB HG680P atau B860H yang sudah terpasang Armbian dapat dimanfaatkan sebagai server rumahan kecil. Docker membantu menjalankan aplikasi dalam container, sedangkan Portainer menyediakan antarmuka pengelolaan melalui browser. Namun, keberhasilan instalasi bergantung pada sistem yang digunakan, bukan semata-mata nama STB.
Sahabat tidak perlu langsung memasang banyak layanan. Mulailah dengan memastikan sistem cocok, menjalankan container uji, lalu menambah satu aplikasi ringan. Cadangkan konfigurasi penting sebelum mengubah paket atau layanan pada STB.
Periksa Armbian dan arsitekturnya
Jangan hanya melihat jenis prosesor
Buka terminal atau SSH, kemudian jalankan:
cat /etc/os-release
uname -m
dpkg --print-architecture
ls /sys/fs/cgroup
Catat apakah Armbian berbasis Debian atau Ubuntu, versi rilisnya, serta arsitektur paket. Prosesor 64-bit belum tentu memakai sistem operasi 64-bit. Untuk panduan ini, utamakan sistem ARM64; hasil arsitektur paketnya biasanya arm64.
Kernel juga harus mendukung fitur container seperti namespaces dan cgroups. Keberadaan direktori cgroups saja belum membuktikan seluruh dukungan tersedia. Kompatibilitas image Armbian dan kernel pada STB tertentu tetap perlu dicek. Jika sistem terlalu lama atau dependensinya tidak cocok, jangan memaksa paket dari distribusi lain.
Untuk persiapan perangkat, pelajari panduan Armbian untuk STB HG680 dan B860H sebelum mengubah instalasi yang sudah berjalan.
Pasang paket Docker dari sumber resmi
Dokumentasi Docker menyediakan pemasangan melalui repositori apt maupun paket unduhan manual. Berikut jalur paket manual agar sahabat dapat memilih rilis dan arsitektur secara eksplisit. Ini bukan memasang paket docker.io dari repositori distro.
Unduh paket yang cocok
Buka Docker Docs, pilih panduan Docker Engine untuk Debian atau Ubuntu sesuai basis Armbian, lalu bagian “Install from a package”. Dari direktori unduhan resmi yang dijelaskan di sana, pilih rilis distribusi, arsitektur ARM64, dan versi paket yang saling cocok.
Unduh lima paket: containerd.io, docker-ce, docker-ce-cli, docker-buildx-plugin, serta docker-compose-plugin. Jika mengunduh lewat komputer lain, salin semuanya ke direktori khusus di STB menggunakan SFTP. Jangan mencampur paket Debian dengan Ubuntu.
Periksa paket konflik yang disebut dokumentasi, termasuk instalasi Docker atau containerd sebelumnya. Hentikan layanan terkait dan hapus hanya paket konflik yang memang terpasang; jangan menghapus paket sembarangan pada server yang sudah dipakai.
Dari direktori yang hanya berisi paket unduhan tersebut, jalankan:
sudo apt update
sudo dpkg -i ./containerd.io_*.deb ./docker-ce_*.deb ./docker-ce-cli_*.deb ./docker-buildx-plugin_*.deb ./docker-compose-plugin_*.deb
sudo systemctl enable --now docker
sudo docker run hello-world
Jika dpkg melaporkan dependensi kurang, catat nama dependensinya dan selesaikan sesuai dokumentasi basis OS sebelum melanjutkan. Jangan menganggap instalasi berhasil hanya karena sebagian paket terpasang. Pesan sukses hello-world membuktikan pengujian dasar, bukan menjamin semua aplikasi kompatibel.
Kelola container melalui Portainer
Jalankan antarmuka browser
Setelah Docker berjalan, gunakan contoh Portainer Community Edition berikut, dengan memeriksa dukungan tag dan arsitekturnya terlebih dahulu:
sudo docker volume create portainer_data
sudo docker run -d --name portainer --restart=always -p 9443:9443 -v /var/run/docker.sock:/var/run/docker.sock -v portainer_data:/data portainer/portainer-ce:lts
Di browser jaringan rumah, buka alamat IP STB menggunakan HTTPS pada port 9443. Pastikan alamatnya benar sebelum menerima peringatan sertifikat lokal, kemudian buat akun administrator. Akses Docker socket memberi Portainer kendali sangat besar atas host, jadi jangan membuka portnya langsung ke internet.
CasaOS merupakan alternatif antarmuka, tetapi kecocokan versi dan dependensinya pada image STB perlu diperiksa tersendiri. Tidak perlu memasang dua panel sekaligus untuk percobaan pertama.
Pantau suhu, RAM, ruang penyimpanan, dan pertumbuhan log. Instalasi paket manual memerlukan pembaruan manual juga. STB berpotensi menjadi home server berdaya rendah, tetapi operasional 24 jam tetap membutuhkan adaptor stabil, pendinginan, pencadangan, dan pengukuran konsumsi listrik nyata.